merah yang bertugas membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh, termasuk
otak. Dalam kondisi normal, seseorang yang memiliki kadar hemoglobin cukup akan merasa
bertenaga, mudah fokus, dan memiliki daya ingat yang baik. Namun, ketika kadar zat besi
menurun, produksi hemoglobin terganggu sehingga suplai oksigen ke otak pun ikut berkurang.
Penyebab ADB tidak hanya terbatas pada satu faktor semata. Pola makan yang kurang
mengonsumsi makanan sumber zat besi (seperti daging merah, hati, dan sayuran hijau),
gangguan penyerapan nutrisi, serta pendarahan (seperti menstruasi pada wanita) berperan
penting dalam memicu kondisi ini. Di lingkungan kampus, kebiasaan sering melewatkan
sarapan, mengonsumsi makanan cepat saji, serta kebiasaan minum kopi atau teh secara
bersamaan saat makan—yang dapat menghambat penyerapan zat besi—semakin memperburuk
risiko terjadinya anemia.
Faktor lain yang turut berkontribusi meliputi kurangnya asupan Vitamin C yang
membantu penyerapan zat besi non-heme, diet ekstrem yang tidak seimbang, serta tingkat stres
yang tinggi. Berbagai penelitian kesehatan masyarakat menunjukkan bahwa remaja putri dan
wanita usia subur (WUS) memiliki risiko paling tinggi mengalami defisiensi besi akibat
kehilangan darah bulanan saat menstruasi. Jika tidak ditangani, kondisi ini tidak hanya
menurunkan ketahanan fisik tetapi juga mengganggu performa akademik secara signifikan.
ADB dan brain fog tidak muncul secara mendadak. Pada banyak kasus, kondisi ini berkembang
secara perlahan akibat kebiasaan sehari-hari yang merusak status gizi tubuh. Sering kali
mahasiswa membiarkan rasa lelah dan kesulitan fokus berlarut-larut, menganggapnya hanya
sebagai efek kurang tidur atau beban kuliah. Padahal, penurunan fungsi kognitif yang dibiarkan
terus-menerus dapat menghambat proses belajar dan mengurangi kualitas hidup secara
keseluruhan.
"Kadang masalahnya bukan karena kita kurang berusaha untuk fokus,
melainkan karena tubuh kita secara perlahan kehabisan oksigen akibat
kekurangan zat besi."
Deteksi dini anemia dapat dilakukan melalui pemeriksaan laboratorium sederhana,
seperti penentuan kadar hemoglobin (Hb) dan hematokrit, atau pemeriksaan serum feritin
untuk melihat cadangan besi dalam tubuh. Petugas kesehatan atau layanan kesehatan
kampus dapat mengevaluasi gejala fisik seperti wajah pucat, konjungtiva mata pucat, serta
rasa lelah berlebih untuk menentukan penanganan yang tepat.
Penanganan ADB dan brain fog dapat dilakukan melalui perbaikan pola makan dan
intervensi gizi. Langkah paling utama adalah menerapkan gizi seimbang dengan
mengonsumsi makanan kaya zat besi, baik besi heme (daging sapi, ayam, hati, ikan)
maupun besi non-heme (bayam, kacang-kacangan, tahu). Mengombinasikan makanan
kaya zat besi dengan vitamin C (seperti jeruk atau jambu biji) juga sangat dianjurkan untuk
mengoptimalkan penyerapan zat besi di saluran pencernaan.
Pencegahan merupakan langkah strategis dalam kesehatan masyarakat. Pemberian
edukasi gizi mengenai bahaya anemia, peningkatan kesadaran akan pentingnya sarapan
sehat, serta program suplementasi Tablet Tambah Darah (TTD) secara rutin bagi remaja